Trendingnasional.com — Depok, Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof. Heri Hermansyah resmi menutup rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026, Selasa (18/8/2026).
Penutupan PKKMB ditandai dengan pemakaian jaket kuning kepada seluruh mahasiswa baru. Jaket kebanggaan UI tersebut menjadi simbol bahwa para mahasiswa telah resmi menjadi bagian dari civitas akademika Universitas Indonesia dan siap memulai perjalanan perkuliahan.
“Pemakaian jaket kuning untuk mahasiswa baru sebagai tanda bahwa mereka secara resmi sudah selesai masa orientasi dan siap memasuki masa perkuliahan,” kata Prof. Heri.
Tak hanya seremoni, UI juga menunjukkan komitmennya memberikan dukungan kepada mahasiswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Dalam kesempatan tersebut, Rektor UI menyerahkan bantuan laptop kepada 20 mahasiswa baru yang dinilai memiliki kondisi ekonomi paling membutuhkan.
“Kita berikan laptop sebagai dukungan dari UI bahwa siapapun mahasiswa yang diterima di UI dari daerah manapun, UI akan memberikan dukungan supaya mereka berhasil, sukses studinya dan kemudian menjadi orang yang bisa mengangkat harkat hidupnya,” ujarnya.
Salah satu penerima bantuan tersebut adalah Nadira Agustina Hariati, mahasiswa baru asal SMAN 3 Solok Selatan, Sumatera Barat.
Di balik keberhasilannya menembus UI, Nadira menyimpan kisah perjuangan yang mengharukan. Ia harus kehilangan sang ayah yang selama ini menjadi sosok paling dekat sekaligus sumber inspirasinya.
“Orang yang selalu menjadi inspirasi aku tuh papa. Jadi setelah itu (papa meninggal) aku berasa kehilangan semangat hidup. Tapi aku mikir lagi bahwa hidup terus berjalan dan enggak mungkin stuck di situ,” tutur Nadira.
Dengan berlinang air mata, Nadira mengaku perlahan mulai bangkit. Ia berusaha menata kembali hidupnya dan menjadikan keinginannya membahagiakan sang ibu sebagai salah satu sumber kekuatan.
“Aku punya tujuan yang pastinya membahagiakan mamaku,” katanya.
Menariknya, UI ternyata bukan kampus yang sejak awal menjadi pilihan Nadira. Ia sempat merasa UI terlalu jauh dari kampung halamannya dan sebelumnya hanya ingin melanjutkan pendidikan di wilayah sekitar tempat tinggalnya.
“Karena rasanya terlalu jauh nih UI. Karena aku maunya hanya di sekitar pulau (tempat tinggal),” ungkapnya.
Namun, setelah berdiskusi dengan sang ibu dan mencari bidang yang sesuai dengan minatnya, Nadira akhirnya memutuskan memilih Program Studi Teknik Industri UI.
“Akhirnya aku memilih Teknik Industri di UI,” ujarnya.
Perjuangan Nadira untuk masuk UI juga tidak mudah. Selain harus fokus belajar, ia aktif dalam organisasi OSIS sehingga harus pintar membagi waktu antara kegiatan sekolah dan persiapan masuk perguruan tinggi.
Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil. Nadira resmi menjadi mahasiswa UI angkatan 2026.
Bagi Nadira, keberhasilannya menembus UI bukan sekadar pencapaian pribadi. Ia menganggapnya sebagai hadiah untuk sang ayah yang telah berpulang sekaligus bentuk terima kasih kepada ibunya yang terus mendukung perjuangannya.
“Ini hadiah untuk papa karena orang tua mana yang enggak mau anaknya benar-benar jadi orang. Ini juga hadiah untuk mama yang sudah berjuang membiayai aku dan nganterin aku sampai di sini bahkan untuk selanjutnya,” pungkas Nadira dengan suara bergetar dan penuh isak.
Kisah Nadira menjadi gambaran bahwa perjalanan menuju bangku perguruan tinggi tidak selalu mudah. Namun, tekad, dukungan keluarga, dan kesempatan yang diberikan pendidikan dapat menjadi jalan untuk bangkit dan meraih masa depan.
