DEPOK – Tantangan Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, untuk mengembangkan Depok menjadi kota film mendapat respons positif dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) Kota Depok.
Ketua DPC GEKRAFS Kota Depok, Yusni Nurdani, menyatakan kesiapannya untuk menjawab tantangan tersebut dengan mendorong kolaborasi antarpelaku ekonomi kreatif, khususnya di sektor perfilman.
Menurut Yusni, industri film memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif di Kota Depok. Terlebih, sejumlah negara seperti Korea Selatan dan Amerika Serikat telah membuktikan bahwa industri film dan musik mampu menjadi kekuatan ekonomi sekaligus memperkenalkan budaya ke kancah internasional.
“Harus sih, karena salah satu yang tadi ditantangkan Pak Wakil adalah kita bicara Korea, Amerika,” ujarnya, Senin (24/08/2026).
Ia menilai Indonesia juga memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri hiburan dan perfilman. Bahkan, Indonesia pernah memiliki berbagai tayangan populer yang mendapat tempat di hati masyarakat, mulai dari sinetron hingga film televisi (FTV).
Yusni mencontohkan sejumlah tayangan populer pada masanya yang dinilai dapat menjadi inspirasi untuk melahirkan karya perfilman dengan pendekatan lebih modern dan sesuai perkembangan generasi saat ini.
“Dulu ada sinetron-sinetron kalau ingat, zaman dulu ada film Tersanjung, ada FTV. Nah, harusnya kita bisa melanjutkan itu, mungkin kita bisa buat lebih ke generasi kini,” katanya.
Sebagai langkah awal, GEKRAFS Depok berencana menghimpun para pelaku ekonomi kreatif dari berbagai subsektor untuk membahas peluang kerja sama dalam memproduksi film.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat melahirkan karya yang tidak hanya memiliki nilai hiburan, tetapi juga mengangkat cerita, budaya, serta potensi lokal Kota Depok.
“Harapan kita nanti di Depok, nanti kita akan salah satu program, kita akan kumpulkan dari bidang-bidangnya, kemudian kita cari apakah bisa membuat film,” jelas Yusni.
Lebih lanjut, GEKRAFS Depok juga membuka peluang kolaborasi dengan para pelaku ekonomi kreatif di tingkat Provinsi Jawa Barat.
Menurut Yusni, sinergi tersebut penting untuk memperluas jejaring, bertukar pengalaman, sekaligus memperkuat kapasitas pelaku industri kreatif dalam mengembangkan perfilman daerah.
Ia menyebut, salah satu peluang kolaborasi dapat dilakukan bersama Ekonomi Kreatif Jawa Barat yang telah mengembangkan karya film berjudul Rahayu.
“Apalagi Jawa Barat sudah membuat film Rahayu tadi. Kita pasti akan berdiskusi juga, berkolaborasi dengan Ekraf Jawa Barat,” tutupnya.
Melalui rencana tersebut, GEKRAFS berharap Depok dapat memiliki ekosistem perfilman yang melibatkan berbagai subsektor ekonomi kreatif. Dengan kolaborasi yang terbangun, potensi lokal Depok diharapkan semakin dikenal melalui karya-karya film yang mampu bersaing di tingkat regional maupun nasional.
